Kamis, 21 April 2016

WARTAWAN TIGA JAMAN PEJUANG PEREMPUAN INDONESIA



Nama S.K. Trimurti yang lahir pada tanggal 11 Mei 1912 dan tutup usia pada tanggal 20 Mei 2008 pada saat itu usia 96 tahun. Beliau merupakan wartawan, penulis dan guru Indonesia namanya begitu melegenda dalam dunia jurnalisme Indonesia. Dia adalah wartawan senior yang hidup tiga zaman, beliau pernah mengambil bagian dalam gerakan Kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda. Beliau kemudian menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama di Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948. Dia berada di Eksekutif Partai Buruh Indonesia, dan memimpin sayap wanitanya dari kelas buruh. Dia ikut mendirikan Gerwis (Gerakan Wanita Sadar), sebuah organisasi perempuan Indonesia, pada tahun 1950 Gerwis berganti nama menjadi Gerwani. Dia meninggalkan organisasi pada tahun 1965. Beliau kembali ke perguruan tinggi ketika berusia 41 tahun. Dia belajar Ekonomi di Universitas Indonesia. Beliau menolak janji untuk menjadi Menteri Sosial pada tahun 1959 dalam rangka untuk menyelesaikan gelar sarjananya. Trimurti adalah anggota dan penandatanagan Petisi pada tahun 1980, yang memprotes Soeharto dengan penggunaan petisi 's Pancasila terhadap lawan politiknya. Para penandatangan Petisi 50 yang termasuk pendukung Kemerdekaan Indonesia terkemuka serta Pemerintah dan Pejabat Militer, seperti Trimurti dan Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pada zaman penjajahan Belanda sudah menjalani hidup di bui (1936-1943) karena idealisme dan karya jurnalistiknya. Bahkan, dia harus melahirkan anak keduanya di lorong penjara ketika itu. Di usia tua, hidupnya tetap penuh semangat, penuh canda dan tampak semakin enteng saja menjalani hidup. Pesat, Bedug, dan Genderang yang sudah tidak lagi terbit adalah contoh nama-nama media majalah tempat dia pernah berlabuh menuangkan kemampuan intelektual jurnalistik untuk membangun bangsa.
Perempuan bertubuh mungil kelahiran tahun 1912 ini adalah istri Sayuti Melik tokoh terkenal pengetik naskah otentik Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Mereka menikah tahun 1938 namun 31 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1969 Sayuti Melik setelah menikah lagi harus menjadi mantan suami yang tetap dia hormati.
Karena orang terbiasa mengenalnya dengan nama S.K. Trimurti atau Soerastri Karma Trimurti membuat nama yang sudah masuk dalam catatan sejarah Indonesia modern tersebut terlupakan sebagai nama yang tak lebih dan tak kurang hanyalah samaran belaka.
Ketika masa kolonial Belanda, Karma dan Trimurti adalah nama samaran yang dia pakai secara bergantian untuk menghindari delik pers pemerintahan kolonial Belanda dahulu. Bukti bahwa dia berjuang melepaskan diri dari siasat kekangan delik pers Belanda adalah bahwa anak keduanya terlahir di lorong penjara saat harus menjalani hidup di bui antara tahun 1939-1943.
Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Jawa dia menentukan sikap untuk tetap sangat tegas terhadap perihal hak-hak perempuan yang dibingkai dengan sopan santun kejawen. Ketegasan itu bukan hanya telah dia contohkan dengan kerelaan melahirkan seorang anak di sebuah lorong penjara, melainkan, terhadap seorang suami (Sayuti Melik) yang karena menikah lagi keduanya harus bercerai dia tetap menaruh rasa hormat sebagai mantan suami.
Kendati sudah berusia uzur Trimurti masih sempat wira-wiri ikut rapat Petisi 50 setiap hari Selasa bahkan terkadang hadir sebagai pembicara di seminar-seminar bertaraf nasional. Beruntunglah terhadap pejuang pers kemerdekaan ini masih Tuhan anugerahkan sebuah kehidupan yang berlimpah sehat walafiat di sebuah rumah sederhana miliknya di Jalan Kramat Lontar H-7 di daerah Kramat, Jakarta. Di depan rumahnya itu bajaj bebas berseliweran yang suara gaduhnya sesewaktu dapat bercampur dengan suara orang-orang lewat atau anak-anak kecil yang menangis termasuk teriakan ibu-ibu yang memanggil tukang siomai dan bakso, misalnya.
Di rumahnya yang sebagian kamarnya dia sewakan sebagai tempat indekos bagi para karyawati terdapat sebuah ruang tamu tempat menggantung lukisan Semar, tokoh pewayangan setengah dewa setengah manusia dan separuh laki-laki dan separuh perempuan yang dikeramatkan oleh sebagian orang Jawa.
Nah, baru di ruang tengah rumahnya terdapat sebuah gambar ukuran 100x60 centimeter yang melukiskan seorang Presiden Soekarno yang sedang menyematkan Bintang Mahaputra Tingkat V ke dada Trimurti. Dia tercengang mengenang sebentar, "Saya sedang dijothak (didiamkan) Bung Karno waktu itu karena memprotes poligami!" tutur Trimurti yang akhirnya bisa tersenyum menerawang mengingat-ingat kembali tipe Bung Karno seorang lelaki yang karismatik tapi beristri banyak.
Dia mengatakan sesungguhnya sangat loyal terhadap Bung Karno sang guru politik sekaligus orang yang memaksanya untuk pertama kali menulis di majalah Pikiran Rakyat. Proklamator Kemerdekaan dan Presiden R.I. pertama itulah yang telah membuat dia kecemplung ke dunia jurnalisme sebab sebelumnya Trimurti sudah menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar khusus putri di Surakarta dan Banyumas, serta di perguruan rakyat di Bandung.
Satu-satunya persoalan fisik dia yang serius adalah keterbatasan penglihatan mata sebelah kanannya yang merosot karena termakan usia, selebihnya tak ada masalah fisik lain pada perempuan tua namun masih sehat walafiat ini. Bukan peristiwa aneh jika ketika dia sedang berjalan-jalan di sekitar rumah lalu tetangganya melontarkan senyum namun tak sekali pun pernah berbalas. Persoalannya Trimurti tidak bisa melihat dengan sempurna bukan karena wartawan senior ini sombong. "Wong saya baca saja pake kaca pembesar!" ujarnya penuh rasa humor.
S. K Trimurti meninggal pada 06.20 pada tanggal 20 Mei 2008 pada usia 96 Tahun, di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) Jakarta. Setelah di rawat di rumah sakit selama dua minggu. Penyebab meninggalnya Ibu S.K Trimurti meninggal karena vena yang rusak. Beliau juga telah menderita hemoglobin level rendah dan tekanan darah tinggi.
Paska Kemerdekaan Trimurti, yang seorang advokat terkenal hak-hak pekerja, diangkat sebagai pertama di Indonesia.

Dia ikut mendirikan Gerwis, sebuah organisasi perempuan Indonesia, pada tahun 1950, yang kemudian berganti nama sebagai Gerwani. Dia meninggalkan organisasi pada tahun 1965. Dia kembali ke perguruan tinggi ketika ia berusia 41 tahun. Dia belajar ekonomi di Universitas Indonesia. Dia menolak janji untuk menjadi Menteri Sosial pada tahun 1959 dalam rangka untuk menyelesaikan gelar sarjana. Trimurti adalah anggota dan penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980, yang memprotes Soeharto penggunaan 'S Pancasila terhadap lawan politiknya. Para penandatangan Petisi 50 termasuk pendukung kemerdekaan Indonesia terkemuka serta pemerintah dan pejabat militer, seperti Ibu Trimurti dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Sebuah upacara menghormati Ibu S.K Trimurti sebagai '' Pahlawan Untuk Kemerdekaan Indonesia" digelar di Istana Negara Jakarta Pusat. Beliau saat ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata





Tidak ada komentar:

Posting Komentar