Minggu, 08 Mei 2016

Refleksi Diri & Refleksi Hati



Refleksi Diri


Putaran roda pedati dan deru suara tapal kaki kuda, ditengah pusat keramaian kota, bagaikan sebuah putaran roda waktu yang siap menggilas keangkuhan serta kepongahan para pejalan kaki, yang sibuk dengan dengan jinjingan hasil belanjaan dari sebuah Mall dipusat kota. Sebuah pemandangan yang cukup kontras, dengan kilauan marmer teras mall, ketika berjejer dalam ratapan nasib, para pengemis yang mengadu nasib dari derma para dermawan pengunjung dalam mall kota itu.
Di hiruk pikuknya Ibukota Jakarta kita selalu bertarung dengan waktu, bertarung dengan identitas diri, bertarung dengan kemacetan yang ada, bertarung dengan rutinitas, bahkan kita bertarung dengan kerasnya Ibukota

Ya….memang pertarungan kita sebenarnya bukan terletak pada siapa apa yang menjadi niat kita dalam pertarungan. Karena kemenangan sesungguhnya dari sebuah pertarungan adalah menaklukan kebekuan dan keangkuhan hati kita sebagai seorang manusia.

Ya… kita terkadang lupa untuk mengukur dan menegok siapa diri kita, karna kita selalu merasa kita yang paling mampu, kita yang paling tahu, dan kita yang paling benar atas apa yang kita lakukan. Benar menurut kita belumlah tentu benar menurut orang-orang di sekeliling kita.

Ya….lagi-lagi..ya… kita harus menundukan kepala, meleburkan kebekuan dan keangkuhan hati, karena kemenangan sejati adalah kemanfaatan dari apa yang kita lakukan. Maka bertarunglah apabila memang itu sebuah manfaat bagi kita dan orang-orang di sekeliling kita, karena apabila itu benar, kita dapat menempuh jalan kebijaksanaan.
Ketika diri terlalu sering melihat keluar dibandingkan ke dalam dasar jiwa kita. Ketika itu secara tidak terasa dan tidak sadar kita pernah meremehkan, merendahkan bahkan menghakimi orang lain dengan niat, ucapan dan perbuatan (syahadat) kita. Ya...lagi dan lagi kita membutuhkan refleksi didalam diri kita, sebuah sikap yang bijak apabila kita sering mengkaji, mengintropeksi ke dalam diri kita dibandingkan sibuk mengkoreksi orang lain. Sejatinya jiwa yang berada di dalam diri kita diciptakan murni penuh dengan kebaikan, dibandingkan dengan sifat nafsu semu semata di setiap insan manusia.







Refleksi Hati

Hati dan pikiran adalah suatu yang tak dapat di pisahkan. Amarah dan kebencian adalah bagian dari kesesatan menuju kemungkaran. Sebab sejatinya Hati merupakan sumber dimana kebaikan dan keburukan berada. Hati mampu menggerakkan setiap tindakan kita, bahkan hati juga mampu mencerminkan sikap kita. Jauh dalam titik nur (cahaya) di hati kita, kita adalah kelam yang membutuhkan cahaya kehidupan. Sebab makna dari kecintaan adalah bagian dari keiklasan, menuju kepasrahan menata tatanan kehidupan yang lebih baik. Terkadang kita perlu merasakan kesunyian di Hati, sebab kesunyian adalah bagian dari proses pencarian kebenaran.

Dialektika (Proses perjalanan) kehidupan adalah bagian realitas perjalanan zaman, karena perubahan adalah sebuah takdir kehidupan. Dan perubahan diri menuju lebih baik akan menyelamatkan kita menjadi manusia yang lebih baik. Terkadang kita pernah meyerah atau pasrah dengan keadaan. Tetapi disini pasrah yang saya maksud bukan berkonotasi putus asa. Pasrah bukan arti dari kekalahan, pasrah adalah sebuah kesadaran untuk mawas diri, karena diri memiliki akal dan hati yang terus menerus harus dilatih. pasrah adalah bagian dari titik kesadaran yang hakiki. Menuju jati diri yang sejati, sebagai seorang makhluk tuhan yang ada di bumi.

Maka jadilah makhluk Tuhan yang tau diri, dan mengerti akan situasi, karena hidup ini adalah bagian dari pencarian jalan untuk kembali Sang Khalik. Menuju kemurnian hati dan jiwa yang bersih, tanpa rasa benci dan kedengkian yang membaluti hati dan jiwa kita yang sesungguhnya suci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar